Ada sebuah pepatah mengatakan, “Tak kenal maka tak sayang”. Dari pepatah ini kita bisa menyadari, untuk mencintai seseorang atau sesuatu kita harus mengenalnya dengan sebenar-benarnya. Bukan sekedar mengetahuinya. Lalu bagaimanakah kita yang mengaku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Sudahkah kita mengenal Rasulullah dengan sebenar-benarnya? Sesungguhnya mengenal Rasulullah adalah salah satu dari al-ushul ats-tsalatsah (tiga landasan pokok) yang wajib diketahui oleh setiap muslim. Termasuk dari pertanyaan dalam kubur, Siapakah Rabb-mu? Apa agamamu? Siapakah Nabimu?
Maka, apakah kita sudah benar-benar mengenal Rasulullah? Sudahkah kita membaca dan menyelami sirah beliau? Mengetahui akhlaq dan sifat beliau? Lalu, apakah kita meneladani beliau atau hanya sekedar tahu sirah beliau?
Hakikat mengenal Rasulullah bukanlah hanya dengan mengetahui perjalanan hidup beliau saja. Akan tetapi juga diiringi dengan mengikuti dan membenarkan setiap apa yang datang dari beliau. Jika mengenal Rasulullah cukup hanya dengan mengetahui sifat dan akhlaq beliau, seperti beliau adalah orang yang jujur dan terpercaya, sungguh orang-orang kafir Quraisy sangat mengetahuinya. Akan tetapi pengetahuan mereka tidak bermanfat sama sekali. Mengapa? Hal ini karena mereka ingkar dan mendustakan beliau, sehingga tidak mengikuti apa-apa yang beliau bawa.
Allah berfirman mengenai kaum kafir Quraisy yang artinya:
“Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka, karena itu mereka memungkirinya?” (Al-Mu’minun 69)
Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, Yakni apakah mereka tidak mengenal Muhammad dan kejujuran, amanah dan kepribadiannya yang terbaca oleh mereka. Dengan kata lain, apakah mereka mampu mengingkari kenyataan tersebut dan bersikap tidak mau tahu terhadapnya? Karena itulah Ja’far ibnu Abu Talib berkata kepada Raja Najasyi (raja negeri Habsyah), “Hai Raja, sesungguhnya Allah telah mengutus kepada kami seorang rasul yang telah kami kenal nasab, kejujuran, dan sifat amanahnya.” Hal yang senada telah dikatakan pula oleh Al-Mugirah ibnu Syu’bah kepada wakil Kisra Persia saat dia menantang mereka untuk perang tanding. Hal yang sama telah dikatakan oleh Abu Sufyan Sakhr ibnu Harb kepada Raja Romawi Heraklius, saat kaisar Romawi menanyakan kepadanya dan kepada teman-temannya tentang sifat-sifat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam., nasab, kejujuran, dan sifat amanahnya. Padahal saat itu ia dan kawan-kawannya masih kafir dan belum masuk Islam, tetapi ia tidak mengatakan kecuali hanya kebenaran belaka; hal ini menunjukkan bahwa mereka mengakui beliau mempunyai sifat-sifat yang terpuji itu.
Begitu juga tidak bermanfaat pengetahuan ahli kitab terhadab Rasulullah, karena mereka menyombongkan diri tidak mengimani kerosulan nabi Muhammad. Sedangkan kaum muslimin hendaknya mereka mengenal Rasulullah melebihi dari selainnya.
Jika kita mengamati, kita tidak mendapati dalam Al-Qur’an ayat yang menjelaskan perjalanan kehidupan Rasulullah, baik tentang kelahiran, pertumbuhan , istri-istri dan anak-anak beliau. Kita bisa mengetahui semua hal tadi berdasarkan riwayat dari para sahabat. Al-Qur’an menjelaskan jalan hidup Rasulullah dalam beribadah, berdakwah, dan akhlaq beliau. Allah menginginkan kita mengenal dengan sebenar-benarnya. Serta meneladani dan menaati ajaran beliau.
Lalu bagaimana hakikat kita mengenal Rasulullah? Kita wajib mengenal akhlaq Rasulullah, dengan membaca sirah beliau, menaati syariat yang beliau bawa, sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an dan hadits. Sehingga kita tidak mencukupkan hanya dengan mengetahui hari, bulan dan tahun sejarah beliau. Betapa banyak umat-umat terdahulu mengetahui tanda-tanda, nasab dan akhlaq beliau namun mereka celaka karena tidak beriman dengan syariat yang beliau bawa. Mari kita menjadikan beliau teladan dalam segala hal, dari permasalahan kecil seperti buang air, hingga perkara besar seperti bertatanegara. Beliau adalah manusia mulia yang sudah dijamin masuk syurga. Memiliki tugas mulia, yaitu menyampaikan wahyu Allah ta’ala kepada seluruh manusia.
Mengenal Rasulullah adalah kebutuhan bagi setiap muslim di seluruh dunia. Sebab mengenal Rasulullah dengan sesungguhnya adalah salah satu cara supaya kita bisa mengimani beliau. Mengenali beliau juga menjadi sarana kita mengenal Allah dan mencintaiNya, juga sebagai wujud kesempurnaan iman kepada Allah ta’ala. Kita bisa memakai pepatah “Tak kenal maka tak beriman” karena mengenal beliau bisa mendatangkan ridha Allah ta’ala dengan kita meneladani perkataan dan perbuatan beliau. Sedangkan jika kita tidak mengenali beliau kita tidak bisa meneladani perbuatan dan perkataannya.
Para ulama mengkatagorikan perbuatan Rasulullah menjadi beberapa kategori, Pertama, Perbuatan Rasululloh yang berkaitan dengan gerakan tubuh, hal ini tidak berkaitan dengan perintah untuk mengikuti ataupun larangan. Kedua, Perbuatan beliau yang tidak berkaitan dengan ibadah seperti posisi berdiri, duduk, dan semisalnya. Maka hal ini menurut mayoritas ulama mubah untuk diikuti. Ketiga, Perbuatan beliau sehari hari yang dijadikan syariat seperti tata cara makan, minum, berpakaian. Hal inilah yang harus kita teladani. Keempat, Perbuatan beliau yang khusus untuk beliau seperti : puasa berturut turut, menikahi lebih dari empat istri, maka hal ini tidak boleh diikuti karena hal ini merupakan kekhususan bagi beliau.
Termasuk tuntutan dari mengenal Rasulullah adalah mengenal keluarga dan sahabat – sahabat beliau. Mencintai dan mempelajari kisah hidup ahlul bait dan para sahabat sehingga kita bisa meneladani mereka. Banyak kisah penuh hikmah dan pelajaran, perjuangan heroik yang diukir oleh mereka.
Mencintai Rasulullah tidak sekedar perkataan “ Aku cinta Rasulullah” namun juga diiringi dengan mengenal beliau dengan sebenarnya. Bukan sekedar ucapan cinta yang dusta, mengaku cinta tapi tidak mengenal sunnah-sunnahnya. Akan tetapi harus diiringi dengan mengenal beliau dengan sesunguhnya. Dibuktikan dengan iman yang nyata, berusaha meneladani beliau dalam kehidupan kita.Supaya kita tidak seperti kaum-kaum sebelum kita yang celaka padahal mereka mengetahui Rasulullah.[]
Usth Miftah Ummu Faiq