Home / KAJIAN / Lisan, Cermin Isi Hatimu

Lisan, Cermin Isi Hatimu

Lisan adalah salah satu anugera terindah dari Allah untuk makhluk-Nya. Lisanpun mempunyai fungsi yang sangat istimewa, sebagai indra perasa dan organ yang mampu berbicara. Maka dari itulah lisan ibarat senjata bermata ganda. Sebagaimana senjata bisa bermanfaat bisa berbahaya. Begitu juga lisan, semua tergantung dengan pengendalinya. Jika digunakan dengan baik maka akan bermanfaat. Jika tidak akan menyebabkan bahaya atau bahkan dosa.

Lisan tampak seperti benda kecil namun padanya tersimpan  rahasia yang istimewa. Dia memegang peranan yang sangat vital dalam menerjemahkan kehendak dan kemauan lewat kata. Ketika dia dilepas pengaruhnya sangat luar biasa. Keimanan dan kekafiran bisa diketauhui melalui kesaksiannya. Bukankah kedua hal ini merupakan puncak ketaatan dan kedurhakaan? Dengan lisan seseorang bisa menjadi terhormat, mulia, dan bahagia. Dengannya pula seseorang bisa menjadi tidak ada martabat, hina, lagi sengsara.

Lisan cerminan hati

“Kata-katamu menunjukkan kualitas dirimu”  Lisan adalah cermin hati seseorang. Saat dia berucap maka disitulah bisa disimpukan sifat dari seseorang. Gaya bicara dan esensi pembicaraan seseorang menunjukkan kualitas orang tersebut. Ada sebuah pepatah jawa, “Ajining diri gumatung ono ing lathi, Ajining rogo soko busono.” Pepatah tersebut bermakna “Kualitas diri itu tergantung dari lisan, sedangkan kewibawaan raga itu tergantung pada busana.” Ketika orang berkata dengan sesuai kehendak hatinya, maka dia akan mengatakan selaras dengan apa yang dia rasakan. Walaupun terkadang memang ada orang yang mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak hati.

Kesadaran bahwa lisan ibarat cermin bagi diri harusnya menjadikan kita untuk selalu mengontrolnya. Selalu berfikir sebelum berucap.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Apabila seseorang hendak berbicara hendaknya dia berfikir dahulu. Jika ada kebaikan dan manfaat pada apa yang akan dia katakan maka hendaknya dia katakana, namun jika dia meragukannya maka janganlah dia katakan sampai jelas manfaat atau tidak perkataan tersebut.”

Setiap muslim wajib menjaga lisannya dari perkataan yang buruk. Menghindari perkataan yang tidak bermanfaat, karena hal tersebut bisa membuka jalan perbuatan yang haram atau makruh. Rasulullah bersabda:

Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam.

Hadits tersebut menunjukkan bahwa ketika seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir tidak mampu berkata baik, maka lebih baik baginya diam. Menahan lisannya agar tidak mengucapkan perkataan-perkataan yang buruk.

Ibnu Hajar menjelaskan, “Ini adalah sebuah ucapan ringkas yang padat makna; semua perkataan bisa berupa kebaikan, keburukan, atau salah satu di antara keduanya. Perkataan baik (boleh jadi) tergolong perkataan yang wajib atau sunnah untuk diucapkan. Karenanya, perkataan itu boleh diungkapkan sesuai dengan isinya. Segala perkataan yang berorientasi kepadanya (kepada hal wajib atau sunnah) termasuk dalam kategori perkataan baik. (Perkataan) yang tidak termasuk dalam kategori tersebut berarti tergolong perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan. Oleh karena itu, orang yang terseret masuk dalam lubangnya (perkataan jelek atau yang mengarah kepada kejelekan) hendaklah diam.”

Godaan yang sering terjadi adalah inginnya seseorang membicarakan setiap apa yang dia dengar, apalagi jika itu adalah kabar yang menarik. Tidak peduli benar atau salah, dia selalu terobsesi untuk menyebarkannya tanpa klarifikasi. Rasulullah telah telah mengingatkan berkenaan dengan hal ini dalam sabda beliau:

Artinya: “Cukuplah seorang disebut berbohong (jika) menyampaikan semua yang telah ia dengar.” (Riwayat Muslim)

Seseorang disebut melakukan kebohongan jika ia menyampaikan semua yang telah dia dengarkan, tanpa memastikan kebenarannya. Sebab biasanya, dia akan mendengar berita yang ada kemungkinan jujur atau bohong. Jika dia menyampaikan semua yang dia dengar maka tentu dia tidak akan terhindar dari kebohongan.

Hendaknya ketika seeorang mendapat kabar yang harus dia lakukan sebelum menyebarkannya adalah tabayun atau klarifikasi. Hingga jika kabar itu dusta atau belum diketahui kebenarannya, cukup baginya untuk tidak menyebarkannya. Jika kabar tersebut sudah pasti kebenarannya, masih perlu dipertimbangkan asas manfaaatnya.jika memiliki manfaat dan maslahat silahkan  menyebarkannya. Namun apabila kabar itu tidak bermanfaat seperti berpotensi memicu keresahan atau ghibah akan lebih baik dia menahan diri untuk menyebarkannya. Sehingga dia tidak menyebarkan dusta maupun bahaya.

Tulisan bagaikan ucapan

Selain dengan ucapan lisan, cara lain yang digunakan oleh seseorang untuk mengungkapkan suatu maksud dan tujuannya adalah dengan tulisan. Sejak manusia mengenal tulisan untuk mengungkapkan suatu maksud dan tujuannya, maka sebenarnya sejak itu juga telah lahir suatu pengakuan dan tradisi bahwa apa yang tertulis sama dengan apa yang terucap secara lisan. Sehingga tulisan pun akan dipertanggungjawabkan sebagaimana ucapan.

Sebagaimana ucapan baik dan buruk, tulisanpun begitu. Sehingga kita juga harus memperhatikan apa yang akan kita tulis. Terlebih dalam era sekarang, menyampaikan ungkapan melalui tulisan sangat mudah. Melalui media sosial, media berita ataupun media-media lainnya.

Dengan adanya berbagai media dengan segala kemudahan dan keistimewaannya. Sebenarnya selain manfaat, semakin besar juga ujian kita. berita mudah tersebar padahal belum terverifikasi kebenarannya. Orang yang menerima beritapun banyak yang tergoda untuk menyebarkannya. Menyampaikan ilmu menjadi lebih mudah, akan tetapi pelu dipahami ungkapan-ungkapan buruk lisan juga bisa terungkap dengan tulisan, seperti ghibah, namimah, mencela dan masih banyak yang lainnya.

Saudaraku hakikatnya kita sedang memegang senjata bermata dua, darinya bisa mendatangkan pahala juga dosa. Semua tergantung bagaimana kita menggunakannya. Senjata itu adalah lisan kita. semoga kita bisa menjaganya.

 

Usth Miftah Ummu Faiq

About pptqluha

Baca Juga

Rahasia Bulan Syuro ( Muharram )

Bulan Suro.. Ada Apa? Bulan Suro adalah bulan pertama dalam kalender Jawa, kalender ini dibentuk …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *