Home / KAJIAN / Belajar Tawakkal Dari Burung

Belajar Tawakkal Dari Burung

BELAJAR TAWAKKAL DARI BURUNG

“Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi).

Saudaraku…

Kita sebagai manusia, tidaklah salah saat menginginkan untuk mencapai sesuatu, mencapai puncak dari kesuksesan. Tapi bnyak dari kita yang mengartikan bahwa seseorang akan disebut sukses saat ia sudah memiliki rumah megah, mobil mewah, uang bertebaran dimana-mana. Persepsi inilah yang menjebak kita dalam kubangan kepenatan hidup merasa tak cukup sebanyak apapun yang teah kita dapatkan, terus bekerja dan bekerja hingga ia alpa untuk melaksanakan kewajibannya. Ibadah ia tinggalkan, keluarga ditelantarkan, lupa bagaimana caranya bersyukur. Dan ia juga lupa bahwa segala hal yang ada di dunia ini pastilah memiliki maksud, hikmah, dan pembelajaran yang dapat kita ambil. bahkan burung-burung yang berterbanganpun mengajarkan pada kita tentang rasa tawakkal, pasrah.

Tawakkal, kalau diltilik secara bahasa ia berasal dari kata ‘tawakala‘  yang memiliki arti; menyerahkan, mempercayakan, dan mewakilkan. Yaitu seseorang yang bertawakkal adalah seseorang yang menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah.

Ia merupakan aktivitas hati, bukanlah hal yang hanya bisa diucapkan dengan lisan, bukan pula hal yang bisa dikakukan oleh anggota tubuh. Dan tawakkal juga bukanlah sebuah keilmuan dan pengetahuan. Ibnu Qoyyim al-Jauzi menjabarkan bahwa tawakkal merupakan amalan dan penghambaan hati dengan menyandarkan sesuatu kepada Allah, tsiqoh terhadap-Nya, berlindung hanya kepadanya dan ridho atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikan kecukupan bagi dirinya dengan tetap berusaha untuk memperolehnya.

Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”

Hadits di atas menjelaskan mengenai urgensi tawakkal. Ibnu Rajab mengatakan, ”Tawakkal adalah seutama-utama sebab untuk memperoleh rizki”. Sebagaimana Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya,

Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).

Kita percayakan urusan kita pada Allah, kita sandarkan segala keluh kesah kita pada-Nya.

Tawakkal bukan hanya pasrah

Saudaraku…

Ternyata, diantara kita bukan hanya ada orang yang terlalu sibuk untuk mencapai kesuksesan dunia hingga lupa pada sang pencipta, tapi juga ada yang 180 derajat berkebalikan dari mereka, mereka yang telah salah kaprah dalam memaknai kata tawakkal, mereka merasa bahwa segala sesuatu telah diatur, hingga tak usahlah untuk berusaha. Mereka lupa bagaimana caranya bermimpi, lupa akan euforia yang mereka rasakan akan sebuah kesuksesan yang telah diraih dengan sebuah kerja keras.

Meskipun dalam hadits hanya dinyebutkan, bahwa seekor burung hanya bertawakal tapi pada hakikatnya, mereka para burung-burung tak pernah melupakan apa itu sebuah usaha, ikhtiar, untuk mencapai sebuah tujuan. Mereka terbang untuk makan, hingga saat kembali kesarang dalam keadaan kenyang. Terbang merekalah sebuah bentuk ikhtiar, melanglang buana, menyusuri gunung, lembah, hutan, lautan.

Tawakkal yang sesungguhnya ialah saat memiliki dua unsur, yaitu; penyandaran diri pada Allah, dan melakukan sebuah usaha. Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Usaha dengan anggota badan dalam melakukan sebab adalah suatu bentuk ketaatan pada Allah. Sedangkan bersandarnya hati pada Allah adalah sebuah keimanan.”

Allah berfirman;

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang.” (QS. Al Anfaal: 60).

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah.” (QS. Al Jumu’ah: 10). Dalam ayat-ayat ini terlihat bahwa kita juga diperintahkan untuk melakukan usaha. Rasulullah juga bersabda:

 “Sungguh Allah jadikan mayoritas rejekiku di bawah bayangan tombakku.” (H.R Bukhori)

Dengan begitu, jelas sudah bahwa tawakal itu bukan masalah berpasrah diri tanpa usaha sebelumnya. Melainkan sebuah totalitas hati dalam kepasrahan pernuh kepada Allah, sembari berusaha dan bekerja semampu diri. Layaknya seekor burung yang juga mengais rejeki dari pagi hingga sore, terbang kesana kemari.

Sahl At Tusturi mengatakan, ”Barangsiapa mencela usaha (meninggalkan sebab) maka dia telah mencela sunnatullah (ketentuan yang Allah tetapkan). Barangsiapa mencela tawakkal (tidak mau bersandar pada Allah) maka dia telah meninggalkan keimanan.”

Tawakkal ala burung

“Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. At-Tirmidzi)

Saudariku apa maksud dari tawakalnya burung?

Tawakalnya  burung itu, puncak dari makna tawakal. Seekor burung tak tahu dimana mendapatkan makanan, bisa jadi tempat kemarin, atau tempat yang lainnya. Yang terpenting bagi seekor burung adalah;

  1. Berusaha keluar sarang dulu, mereka berusaha
  2. Tidak stress dulu di dalam sangkar, karena terlalu lama memikirkan nasibnya
  3. Optimis dengan rizki dari Allah untuk memenuhi kebutuhannya.

Dan yang terpenting mereka tahu batas, bukan seperti semut yang lebih menyukai menumpuk makanan. Sekarang kita lihat sekitar kita, masih banyak orang yang tidak mau bersusah dahulu, terlalu stress memikirkan nasib, dan terlalu lama berkutat dalam rencana dan prediksi, rasa pesimis dengan usaha yang dilakukan, pesimis dengan karunia Allah, hingga berlarut-larut dalam menggapai cita sampai lupa pada-Nya.

Saudaraku…

Marilah kita lihat diri kita, sudahkah kita bersikap layaknya para burung. Yang selalu optimis dalam menghadapi hidup ini, yang selalu berani maju meski tak pernah tahu apa yang ada didepan kita, dan pasrah saat kita sudah berusaha, menyerahkan segala hasil hanya pada-Nya. Saudaraku Rasulullah pernah bersabda;

“Akan masuk surga suatu kaum yang hati mereka seperti hati burung” (H.R Muslim)

Oleh : Usth Fina Nafsiatul Muthmainnah,

About pptqluha

Baca Juga

Fasilitator kemaksiatan

Tak sedikit orang tua yang mengatakan, bahwa mendidik anak di jaman sekarang jauh lebih sullit. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *