Home / KAJIAN / Fasilitator kemaksiatan
Fasilitator Kemaksiatan

Fasilitator kemaksiatan

Tak sedikit orang tua yang mengatakan, bahwa mendidik anak di jaman sekarang jauh lebih sullit. Apa iya? Kalau ditilik dari situasinya, dulu dan sekarang memang jauh berbeda.

Dulu, duluuu… sekali. Jaman sekian tahun yang lalu –ketika apple dan blackberry hanya bisa dimakan J- baru mendengar suara telpon saja, anak-anak SD seusia saya saat itu malah lari terbirit-birit. Apalagi demi mendengar suara asing di seberang sana. Pias wajah ini. Entah mau bicara apa.

Mungkin kita juga masih ingat, ketika hanya saluran televisi nasional yang menjadi satu-satunya harapan. Untuk bisa menikmati kartun atau ‘cerita untuk anak’ saja, saya harus sabar menanti sore datang. Tayangan di siang hari pun, hanya ada pada hari Ahad hingga pukul 14.00 menjelang. Ditutup dengan lagu ‘Nyiur Hijau’ kemudian …. off.
Bagaimana dengan sekarang?

Kini, telepon [baca: hp, gadget] sudah tidak lagi menjadi barang mewah. Siapapun bisa memiliki. Baik itu ibu rumah tangga yang sederhana, sampai para aktris maupun pejabat yang ponselnya bisa lebih dari dua. Dan tanpa terasa, hp sering kita jadikan sebagai solusi instan bagi anak-anak. Saat Bunda sibuk, untuk menenangkan mereka, gadget terkadang menjadi pilihan. Menginjak kelas 5-6 SD (atau malah di usia lebih muda lagi), dengan dalih memudahkan komunikasi, orangtua jaman sekarang rela membelikan gadget termahal. Padahal dengan demikian, kesempatan berselancar di dunia maya lebih terbuka lebar. Apapun bisa diakses dengan bebas. Yang baik-baik ada, apalagi yang tidak patut dikonsumsi anak-anak di bawah umur. Banyak sekali.

Itu baru benda kecil bernama hand phone, smart phone dan teman-temannya dengan fiturnya yang lengkap. Si kotak ajaib masa kini bernama televisi, always on di setiap rumah keluarga muslim. Alih-alih menemani anak menonton televisi, para orang tua justru ikut larut di dalamnya. Sibuk membicarakan aktris A yang baru saja menikah, aktris B yang bulan madu di negara anu, film impor yang lagi naik daun, sinetron yang mengharu biru dan menguras air mata. Olala…. akhirnya bunda sangat hafal di luar kepala jam tayangnya, nama aktrisnya atau nama hostnya. Ssstt… ternyata bukan hanya ibu-ibu yang tidak pernah mengikuti pengajian saja yang asyik membicarakan ini. Para bunda yang sering hadir di majelis taklim, bahkan para ummahat berjilbab lebar juga tak mau ketinggalan.

Aduhai… inilah jaman bila kedua benda digital tersebut menjadi ‘uswah’ dalam kehidupan. Inilah ‘dunia datar’ yang tak berbatas.
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka terhadap Allah, terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS. At Tahrim:6]

Bunda, disadari atau tidak ternyata kita telah menjadi fasilitator kemaksiatan yang dilakukan anak-anak kita. Coba, siapa yang membiarkan seluruh tayangan-tayangan di televisi dinikmati tanpa kontrol? Siapa yang membelikan gadget beserta pulsanya? Kalau kemudian mereka berbuat kesalahan akibat kedua benda mati itu, kenapa pula harus anak-anak yang menjadi kambing hitam.

Kalau kita telusuri dan mau berkata jujur, sebenarnya semua bermula dari hal-hal remeh yang luput dari perhatian kita. Sebagai contoh, ketika ada anak yang baru berusia 2 atau 3 tahun berlenggak lenggok bak seorang aktris di layar kaca, atau menirukan iklan di televisi dengan mimik lucunya, pada umumnya ibu akan memberikan respon positif dengan ‘kemajuan’ yang dilakukan anaknya tersebut. Atau kita juga sering membiarkan anak-anak menikmati sinetron, infotaiment, dan lain-lain tanpa ada filter sama sekali. Selain itu, terkadang kita juga tidak mau tahu apa yang dilakukan ketika anak-anak berselancar di dumay, melalui warnet atau gadget yang ada di tangannya.

Akibatnya? Jangan kaget bila anak SD saling bully hinggga berdarah-darah. Jangan heran bila ada anak seorang aktifis Islam yang merokok, pacaran, bahkan menjadi user situs-situs porno. Na’udzubillah… akankah mereka menjadi generasi yang hilang? Padahal orang tua mereka adalah orang baik-baik, yang hampir tak pernah berbuat kerusakan.

Terpukul. Mungkin itu yang dirasakan orang tua, demi melihat anak yang dulu ditimang-timang, telah ‘membuat malu’ keluarga. Nasi seolah sudah menjadi bubur pahit bercampur empedu. Orang tua seakan menjadi tertuduh di kursi pesakitan yang tidak layak dipandang, meski hanya dengan sebelah mata.

Lalu apa yang harus kita lakukan?
Come on, jangan pernah berhenti berupaya. Tidak ada kata terlambat. Karena perintah Allah dalam QS. Al Isra:32, “Dan janganlah kamu mendekati zina, karena zina itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk,” berlaku untuk sepanjang masa.
Jadi, berhentilah untuk menjadi fasilitator kemaksiatan, bagi anak-anak kita sendiri. Untuk itu jangan pernah berhenti memerhatikan seluruh aktifitas mereka. Biarlah gaya alay mereka berkata, “Kepo banget, umi!” Biarlah, karena mereka anak-anak kita yang kelak kita akan dimintai pertanggungjawabanNya. Biarlah, karena kita tak pernah berhenti mendoakan, agar Allah menjaganya dalam setiap kedipan mata.

About pptqluha

Baca Juga

Belajar Tawakkal Dari Burung

BELAJAR TAWAKKAL DARI BURUNG “Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *