Home / KAJIAN / Tetap Tegar Disaat Sukar

Tetap Tegar Disaat Sukar

GENERASI TANGGUH VS GENERASI RAPUH

Saat ini kita hidup di era digital. Banyak orang menyebut dengan istilah “ anak zaman now “. Dimana zaman old  hanya akan menjadi sebuah cerita, dan zaman now menjadi nyata. Kecanggihan tekhnologi saat ini melambangkan kecepatan hingga berubah menjadi sebuah peradaban. Seorang guru besar Fakultas Ekonomi UI Prof Rhenald kasali menyebut sebagai “ peradaban kamera “. Tak kenal usia,muda,tua,golongan kaya, kaum papa, bahkan anak yang masih balita. Semuanya sangat bergantung dengan “ smartphone berkamera canggih “. Alat ini menmemani hari hari mereka dimanapun, kapanpun,bersama siapapun. Kecanggihan teknologi ini “ menyerang “ generasi rapuh. Generasi yang mempunyai mimpi besar namun ingin meraihnya dengan cara instant. Ketika apa yang mereka impikan tak kunjung menjadi kenyataan dalam waktu yang singkat, akhirnya mereka menguluh dan putus asa, bahkan menyalahkan keadaan.

Didunia ini apa sih yang instan? Anda saja ingin makan tentu harus melibatkan tangan Anda untuk mengambil sesuap nasi kemudian memasukkan kedalam mulut Anda, betul ?. Sukses itu adalah rangkaian panjang dari sebuah proses. Sukses itu jika anda banyak berproses, bukan banyak protes.

Hidup itu pilihan. Anda pilih proses atau protes ? klo saya sih ingin banyak proses.

AGAR TETAP TEGAR MESKI SUASANA SANGAT SUKAR

Saat sukar adalah kondisi yang tidak diinginkan oleh semua manusia. Kehadiranya tak dinanti nanti. Ketiadaanya pun disyukuri. Sayangnya tak semua manusia menyadari bahwa masa sulit adalah sebuah keniscayaan. Semakin keberadaanya dihindari, kedatangnya semakin sering silih berganti.

Satu satunya cara untuk menghindari adalah dengan menghadapi. Bukankah Allah tak akan membebani hambanya melebihi kapasitas kemampuanya ? Bukankah Allah tak akan membiarkan hambanya yang gemar berusaha ? Bukankah Allah tak akan menyelisihi janji  bagi hambanya yang bertaqwa ?

Allah selalu punya rencana hebat untuk menunjukkan jalan keluar dari masa sukar. Sangat mudah bagi Allah untuk mengangkat martabat manusia dengan caranya. Mengentaskanya dari masa masa sulit yang menghimpit.

MASA SULIT menjadi jurus ampuh yang akan menjadikan manusia menjadi tumbuh dan tangguh, sejauh ia menyikapinya dengan hati lapang dan tenang. Bagi orang beriman masa sukar adalah “ masa emas “ , yang akan mendongkrak keimananya kepada yang menggenggam dunia, Allah Subhanahu Wata’ala. Bagi mereka masa sulit adalah pendidikan langsung dari Allah untuk hambanya, karena Allah ingin memberikan yang terbaik baginya. Dunia dan syurga sebagai hadiahnya.

Yakinlah..bahwa Allah selalu Bersama dengan hambanya.

Yakinlah bahwa pertolongan Allah akan selalu menyertai hambanya, selama ia menolong sesama. Pertolongan Allah akan menaungi hamban Nya selama ia menanungi saudaranya.

Orang beriman akan tegar menghadapi masa sukar. Karena ia tak hidup sendiri. Ia sadar punya dzat yang Maha memberi solusi. Ia akan mengadukan permasalahanya  kepada Nya saat sujud menghadap Nya. Ia akan membasahi bibirnya dengan dzikir dan istighfar.

MEMAKNAI HIDUP AGAR TAK REDUP

Setiap manusia mengalami pasang surut dalam hidup. Tidak ada hidup yang berjalan datar dan mulus tanpa halangan, godaan dan rintangan. Entah sesaat atau lama.

Semangat hidup seringkali berkobar pada waktu yang tidak tentu. Namun pada saat yang lain, semangat hidup seseorang akan mulai redup, seiring dengan bertambanhnya  kerasnya hempasan gelombang kehidupan. Lantas, apa yang akan kita lakukan sehingga membuat hidup terasa lebih hidup ?  Apakah cukup hanya dengan memberikan minyak pada api tersebut, agar tetap menyala di sepanjang hari? kita tahu bahwa persoalan hidup saat ini sangat kompleks.

Memberikan minyak pada api saja tidak cukup, perlu berbagai macam cara untuk menjadikan api semangat semakin berkobar menyala nyala, dan akan tetap menyala meski ditiup angin topan, bahkan badai sekalipun. Banyak trik yang perlu dilakukan, dari mulai menyediakan pelindung hingga menghalangi angin yang mengarah ke api tersebut.

Jika api semangat itu mulai redup bahkan padam, maka bersegeralah meyalakanya kembali dengan ” semangat berbagi”. Berbagi 4 Ta. Harta, Tahta, Kata dan Cinta. Semakin banyak kita memberi semakin kita banyak menerima.

Analogi kehidupan adalah seperti seseorang bernafas. Sesekali kali ia hirup, sesekali ia keluarkan. Jika manusia hanya mampu menghirup tanpa mengeluarkan udara, akibatnya fatal. IA AKAN MATI. Begitu sebaliknya.

Hidup ini bukan soal mencari dan mengumpulkan, namun juga membagikan. Agar tetap hidup maka ia harus mampu mencari dan membagi.

SETIAP MANUSIA AKAN MENGALAMI UJIAN HIDUP

Kehidupan menyimpan banyak rahasia. Hanya orang orang tertentu yang diberi kesempatan menguak misteri kehidupan. Lika liku kehidupan merupakan fase yang harus dilalui. Dalam kondisi susah atau senang, masa sulit pasti akan datang. Tugas Setiap manusia adalah menerima “ tamu istimewa “ berupa ujian hidup.

Layaknya sebuah bungkus permen, ujian ibarat bungkusnya dan ganjaran adalah permenya. Bungkus dan permen adalah 1 paket, yang tidak terpisahkan antara 1 dengan yang lain. Bagaimana perasaan anda jika anda diberi sebuah permen tanpa sebuah bungkus? Belum cukup disitu, ternyata permen yang diberikan kepada anda diambil dari sebuah saku baju berdebu. Pertanyaanya, maukah anda menerimanya ? maukah anda merasakanya ? Tentu tidak.

Mana yang akan anda pilih ? permen tanpa sebuah bungkus atau permen yang terbungkus plastik ? Tentu anda akan memilih yang kedua..

Namun, kenyataanya..setiapkali kita mendapatkan permen yang terbungkus, dengan enteng kita akan membuang bungkusnya.

Dalam hidup seringkali kita menginginkan hadiah dan keajaiban, namun seringkali melupakan ujian. Yakinlah.. ketikah Allah menghadirkan ujian, pada saat itulah Allah juga sedang menyiapkan hadiah. Ketika Allah mengirimkan sebuah cobaan hidup, sejatinya sinyal dari Allah bagi manusia bahwa Allah sedang mengirimkan bungkus, yang tidak lama lagi Allah akan  mengirimkan keajaiban, layaknya sebuah permen.

Sebagaimana manusia, Lembaga Pendidikan pun akan mengalami ujian hidup. Cobaan dan rintangan selalu datang silih berganti. Semakin tinggi pohon, semakin besar tiupan angin.

PPTQ Luqman Al Hakim yang dengan izin Allah masih berdiri kokoh hingga saat ini, juga mengalami berbagai persoalan hidup yang penuh onak dan duri. Dari masa ke masa,  cobaan,ujian, bahkan cercaan. peluh keringat para asatidz dan support dari para donatur kini telah membuahkan hasil. Ujian itu berubah menjadi keajaiban dan mengundang keberkahan.

Perkembangan  pesat dan signifikan yang dirasakan. Ujian hidup ibarat bumbu dalam masakan. Tanpa bumbu, masakan akan terasa hambar. Bumbu kehidupan itulah yang akan menjadikan manusia  menjalani hidup lebih bermakna.

PESANTREN..TEMPAT MENYEMAI BENIH KETEGARAN

Setiap manusia menginginkan kehidupan yang baik. Nyaman, mapan dan berkecukupan. Hidup barokah bukan karena harta yang melimpah ruah, namun menafikan sedekah. Ukuran sukses tidak dinilai dari materi. Sukses tidak cukup didunia. Sukses saja tidak cukup. Butuh kata mulia. Sukses di dunia, mulia di akhirat.

Pesantren dianggap menjadi tempat yang tepat sebagai pusat Pendidikan karakter agar tetap tegar menghadapi masa sukar. Di pesantren diajarkan tentang pentingnya memperjuangkan hidup diwaktu yang sangat singkat, demi keselamatan kehidupan di akhirat.

Kehidupan di pesantren sebagai modal menghadapi hidup global. Di tempat inilah , diajarkan tentang nilai nilai keislaman, kedewasaan, keprihatinan,dan keteladanan.

Menolong sesama dan saling bekerjasama menjadi ruh dan pilar ketegaran. Saling berkontribusi dan mengasihi menjadi nyata direalisasikan.

Pesantren menjadi tempat menyemai benih kebaikan dan ketegaran.

Wallahu a’lam bisshowab

 

Utbah Kamaluddin

About pptqluha

Baca Juga

Belajar Tawakkal Dari Burung

BELAJAR TAWAKKAL DARI BURUNG “Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *