Home / KAJIAN / Awas, Salah Langkah Dalam Tarbiyah

Awas, Salah Langkah Dalam Tarbiyah

 Anak shalih merupakan dambaan setiap orangtua. Anak shalih merupakan investasi terbesar dan termahal yang pernah mereka tanamkan. Orangtua yang memahami pendidikan Islam dengan baik dan benar tentunya akan lebih memperhatikan aspek akhirat anaknya tanpa mengesampingkan aspek duniawinya. Mereka akan menanamkan nilai-nilai ketauhidan sejak usia dini, mencontohkan adab, sopan santun, mengajarkan akhlak yang mulia, cinta ilmu dan tentunya mengenalkan jihad fi sabilillah.

Namun kondisi sekarang, tak sedikit orangtua lebih cenderung fokus pada aspek dunia daripada aspek akhirat bagi sang anak. Mereka lebih bangga jika anaknya berhasil meraih gelar sarjana namun hatinya gersang dari cahaya keimanan, akhlaknya rusak dan lain sejenisnya. Pada sisi lain, anak zaman sekarang lebih banyak menghabiskan waktunya di depan gadget, televisi, ataupun game online, ketimbang membuka lembaran ayat–ayat suci Al Qur’an. Bahkan masih banyak di antara mereka yang belum mengenal huruf-huruf Al Qur’an. Orang yang rajin shalat berjamaah menjadi aneh bagi mereka, kehidupan mereka lebih akrab dengan maksiat dan dosa.

Inilah akibat dari kurangnya perhatian dan salah bersikap para orangtua dalam mendidik sang anak. Mereka mengira dengan mengirim anak ke sekolah bertaraf internasional, semua fasilitas tersedia, apa pun keinginan di penuhi, itu semua dianggap langkah tepat dalam mendidik anak. Inilah konsep yang keliru, konsep pendidikan yang tidak sedikitpun menghiraukan aspek ruhiyah pada anak. Tanpa disadari, mereka telah menjerumuskan sang anak ke dalam jurang kehancuran.

Pentingnya Tarbiyah Ruhiyah

Anak merupakan ladang amal bagi orangtua, baiknya seorang anak tergantung pendidikan yang diberikan oleh orangtua di waktu kecil. Maka dari itu, dalam Islam tarbiyah aulad (pendidikan anak) merupakan prioritas utama yang harus diperhatikan oleh orangtua. Jika seorang anak sejak usia dini dikenalkan dengan pendidikan Islam maka output-nya akan baik, Insya Allah. Dalam sebuah hadits mulia Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata; Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kemudian kedua orangtuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna. (Hadits Riwayat Imam Bukhori)

Ada salah satu aspek yang sering orangtua lupakan dalam mendidik anak, yaitu tarbiyah ruhiyah. Jangankan untuk anak, untuk diri sendiri pun orangtua sering lupa dengan tarbiyah bentuk ini. Padahal, seperti halnya akal dan pikiran perlu mendapat pendidikan, ruh pun wajib mendapatkan haknya. Untuk mendidik akal dan meningkatkan kapasitas intelektual, orangtua akan memasukkan anak ke sekolah yang bertaraf internasional atau sejenisnya. Tetapi dalam masalah pendidikan keimanan, seringkali orangtua enggan memberi porsi yang cukup. Bahkan tidak perduli walaupun sekolah tersebut tidak memberikan pendidikan Islam yang memadai.

Tarbiyah ruhiyah adalah tarbiyah yang ditujukan untuk meningkatkan iman, akhlaq dan adab yang pastinya akan berpengaruh pada kepribadian anak. Iman kepada Allah ‘azza wa jalla, wajib mendapat “pupuk” yang mencukupi, disiram dengan “air” agar terus menerus tumbuh di lahannya secara bertahap dan seimbang. Iman tersebut akan tumbuh subur karena didasari dengan hubungan yang intens antara hamba dan Allah ‘azza wa jalla, dalam berbagai amaliyah ibadah. Maka wahai orangtua perhatikanlah terbiyah ruhiyah pada anak anda.

Contoh Tarbiyah Ruhiyah di Masa Generasi Salaf

Abdullah bin Dinar berkisah tentang perjalanannya bersama Khalifah Umar bin Khattab. Beliau mengatakan, “Saya bersama Umar bin Khattab pergi ke Makkah dan beristirahat di suatu tempat. Lalu terlihatlah anak gembala dengan membawa banyak gembalaannya turun dari gunung dan berjumpa dengan kami.

Umar bin Khattab memulai percakapan, “Hai penggembala, juallah seekor kambingmu itu kepadaku!” Anak kecil penggembala itu menjawab, “Aku bukan pemilik kambing ini, aku hanya seorang budaknya.” Kemudian Umar menguji anak itu, “Katakanlah kepada tuanmu bahwa salah seekor kambingnya dimakan serigala.” Anak itu termenung lalu menatap wajah Umar dan berkata, “Maka di manakah Allah?” Mendengar kata-kata yang terlontar dari anak kecil ini, menangislah Umar. Kemudian beliau mengajak budak itu kepada tuannya kemudian memerdekakannya. Beliau berkata pada anak itu, “Kalimat yang telah engkau ucapkan tadi telah membebaskanmu di dunia ini, aku harap kalimat-kalimat tersebut juga akan membebaskanmu kelak di akhirat.”

Mungkin timbul pertanyaan, bagaimanakah seorang anak kecil di masa itu bisa menjadi begitu yakin dengan muroqobatullah (pengawasan) Allah ‘azza wa jalla, yang berlaku pada setiap manusia? Di masa kekhalifahan Umar bin Khattab, masyarakat Islam sudah terbentuk dan masyarakat ini menghasilkan bi’ah (lingkungan) yang baik bagi anak tersebut, kendati ia berada di gurun. Pengaruh sistem pendidikan Islam telah merembas ke berbagai tempat sehingga setiap orang benar-benar meyakini dan menghayati syari’at Allah ‘azza wa jalla. Keyakinan anak tersebut lahir dari suatu pendidikan dan latihan yang benar dengan pendamping masyarakat yang sholih.

Metode Tarbiyah

Pembekalan keimanan bagi anak berorientasi pada penyiapan pemahaman dan pembiasaan yang kelak dapat menolong anak untuk memelihara ruhiyahnya. Anak-anak sebenarnya lebih mudah menerima hal yang bersifat teoritis kendati bersumber dari perkara ghaib (tidak nampak) [lihat Surat Al Baqoroh: 1-3]. Karena secara fitrah, mereka mudah mempercayai orangtua, guru atau kawan dekatnya. Anak-anak senantiasa jujur dan tidak mau didustai seperti pada kisah Umar bin Khattab di atas. Tarbiyah imaniyah untuk anak-anak diberikan dengan jalan:

  1. Contoh dan Keteladanan

Anak-anak adalah makhluk yang paling senang meniru. Orangtuanya merupakan figur dan idolanya. Bila mereka melihat kebiasaan baik dari ayah ibunya, maka mereka pun akan dengan cepat mencontohnya. Anak harus senantiasa diingatkan bahwa semua rezeki bersumber dari Allah ‘azza wa jalla. Apabila kita memberi roti kepada anak misalnya, sempatkanlah bertanya, “Dari mana roti ini, Nak?” “Dari Umi,” jawab si anak. “Ya. Tetapi sebenarnya roti ini pemberian Allah kepada kita. Allah menyampaikannya melalui Umi.”

  1. Dengan Latihan dan Pembiasaan

Anak-anak sangat mudah menghafalkan do’a-do’a. Apalagi bila di sekolah mereka mendapat program khusus mengenai do’a ini. Tetapi pengamalan do’a-do’a tersebut sangat tergantung pada pengawasan orangtua. Biar pun anak mampu menghafal seratus do’a di sekolah, dia tidak akan mampu meningkatkan imannya bila tidak ada pengamalan di rumah. Secara rutin dan teratur ayah ibu hendaknya membimbing anak membiasakan, menjelaskan dan memberi pengertian tentang nilai kandungan do’a. Pembiasaan lain yang perlu dilakukan semenjak dini antara lain, membawa anak-anak ke masjid, beri’tikaf, serta mencintai dan menghormati jama’ahnya juga memberikan perhatian khusus agar anak senantiasa membaca Al Qur’an.

  1. Nasihat dan Bimbingan

Orientasi nasihat dan bimbingan bertujuan mengingatkan anak terhadap pengawasan Allah di mana pun mereka berada. [Baca kisah Ibnu Abbas sewaktu masih anak-anak, beliau dibonceng Rasulullah di atas untanya. Perjalanan yang mengasyikkan ini digunakan Rasulullah untuk menasihati Ibnu Abbas].

  1. Pengarahan dan Pengajaran

Bila nasihat disampaikan di mana saja, di tempat di mana orangtua berinteraksi dengan anak, maka pengarahan dan bimbingan mengambil waktu dan tempat tertentu misalnya seusai shalat Shubuh atau Maghrib berjamaah, ketika sedang safar atau melihat segala ciptaan Allah ‘azza wa jalla.

  1. Bercerita dan Berkisah

Anak-anak sangat senang pada kisah-kisah, apalagi di dalamnya terkandung unsur-unsur heroik dan semangat perjuangan. Islam memiliki khazanah kekayaan sejarah yang sangat besar. Ayah ibu yang bercerita kepada anak akan lebih melekatkan anak pada keteladanan dan ibroh (pelajaran) yang dapat diambil oleh anak. Sesungguhnya apabila orangtua mampu bercerita dengan baik, kisah dari seorang ibu yang lembut dan penuh keakraban lebih disukai anak dari acara-acara telivisi.

  1. Dorongan, Rangsangan dan Penghargaan

Anak sangat memerlukan dorongan dan penghargaan ketika meraih suatu prestasi. Jangan segan mengucapkan “selamat” kepada anak atau memberi hadiah ketika berhasil dalam satu kegiatan. Bagi seorang anak, perhatian, ciuman, dekapan yang mesra, atau bentuk lainnya dapat dipahami sebagai hadiah. Tak ada salahnya orangtua memberi sesuatu ketika anak berprestasi dalam peningkatan pribadinya. Misalnya, ketika berhasil menghafal satu surat di antara surat-surat Al Qur’an.

Demikian diatas adalah permisalan langkah untuk membangun tarbiyah yang baik untuk anak. Ayah bunda, jangan sampai salah langkah dalam tarbiyah mencetak generasi mendatang. Perhatikan dengan serius tarbiyah ruhiyah yang seharusnya dikonsumsi seorang anak. Ajarkan mereka cara mengabdi kepada Allah, mereka akan mengabdi pada anda. Contohkanlah mereka cara menghormati Nabi, mereka akan hormat pada anda. Bimbinglah mereka untuk menghargai sesama, mereka akan menghargai anda. Tuntun mereka untuk bisa intropeksi kesalahan pribadi, mereka akan mengantar anda pada Baity Jannatiy. Tunjukan pada mereka rasa berbagi dan peduli, mereka akan mendekap anda saat masa tua. Wallahu a’lam bi showwab

 

[Arhab yusuf adz dzakiy ibnul jazuliy]

About pptqluha

Baca Juga

Belajar Tawakkal Dari Burung

BELAJAR TAWAKKAL DARI BURUNG “Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *