Home / KAJIAN / Peta Kebahagiaan Dalam Naungan Al Qur’an

Peta Kebahagiaan Dalam Naungan Al Qur’an

 Setiap insan apapun profesi yang ia jalani, pasti mendamba kebahagiaan juga ketentraman dalam titian hidup yang dijalani, termasuk aktivitas yang ditekuni. Berbagai upaya akan ditempuh, bahkan ada juga yang menempuh dengan berbagai hal yang sulit dilukiskan untuk mendapatkan kebahagiaa itu. Namun, nyatanya kebahagiaan yang dimaksudkan kadang-kadang tidak berlaku umum sifatnya, tidak holistis jangkauannya dan tidak komprehensif.

Bahagia bagi seseorang belum tentu bahagia bagi yang lainnya. Banyak pamflet dibuat, bahagia itu sederhana “cukup secangkir kopi anda hadir dengan kebahagiaan”, mungkin bagi anda yang ngopi, namun bagi yang tidak itu tidaklah menampilkan kebahagiaan. Bahagia itu sederhana “ketika kamu hadir disampingku”, bahagia untuk anda saja untuk yang lain mungkin kecewa karena yang sudah dinantikan ternyata diambil orang.

Ada bahkan yang membuat indeks kebahagiaan tapi tidak ada yang meraihnya dengan seratus persen. Si fulan membuat capaian kebahagiaan tapi tidak sama dengan yang dirasakan yang lain. Lantas, bagaimana kita membuat kebahagiaan yang hakiki yang kiranya bisa ditempuh semua orang juga mampu hadir dalam setiap sudut kehidupan yang dijalani.

Kebahagiaan Pertama, Dekat dengan Allah ‘azza wa jalla

Dalam Islam ada satu panutan untuk bisa mencapai kebahagiaan secara komprehensif, yaitu Al Qur’an. Kita pahami bahwasanya Al Qur’an adalah firman Allah ‘azza wa jalla dan kita sepakati bahwa Allah ‘azza wa jalla adalah Rabb yang tidak ada dzat selainnya yang boleh diibadahi dan Dia lah yang menciptakan kita sebagai makhluq. Karena Dia sebagai kholiq (pencipta) maka pastinya Dia tahu dengan apa yang diciptakan, tahu tentang bahan ciptaan Nya, tahu tentang karakteristik ciptaan Nya, tahu seluk beluk ciptaan Nya dan juga tahu apa yang dibutuhkan oleh apa yang diciptakan Nya.

Bukankah anda yang membuat pesawat terbang tahu apa yang dibutuhkan pesawat sehingga bisa terbang. Anda tahu apa yang dibutuhkan dalam badan pesawat, bagaimana menyusunnya supaya setabil, bagaimana bentuk dalam sayap supaya tidak ada crack (retak-), berapa bahan bakar yang dibutuhkan, berapa kecepatan yang diperlukan, bagaimana kesetabilan diatas udara bisa dibangun, itu semua yang tahu adalah yang membuat pesawat. Ketika pesawat mengalami hal sesuatu pasti akan ditanyakan ke insinyur pembuatnya. Manusiapun sama, ketika mengaku diri sebagai orang beriman maka yang tahu seluruh kebutuhannya adalah sang penciptanya, Allah ‘azza wa jalla.

Karena itu, anda mesti bertanya pada keterangan Allah yang pernah di bawa oleh Nabi agar anda merasa dekat dengan Allah. Keterangan Allah yang di sampaikan kepada Nabi disebut dengan wahyu, wahyunya disebut dengan ayat, kumpulan ayat disebut dengan Al Qur’an. Bukankah ketika anda membaca Al Qur’an anda meresa dekat dengan Allah, bahkan lebih hebat lagi jika terdapat iman dalam dada, baru mendengar Al Qur’an dibacakan maka semakin bertambah kedekatan kepada Allah. [lihat Qur’an Surat Al Anfal: 2]

Al Qur’an, Didekati Bukan Dijauhi

Al Qur’an bukanlah sekedar kitab bacaan, isinya yang terdiri dari surat Al Fatihah sampai surat An Naas, semuanya adalah firman Allah yang terkait dengan petunjuk kehidupan. Manusia tidak bisa berkomunikasi langsung dengan Allah, agar anda memahami rambu-rambu langit maka pelajarilah surat cinta yang turun dari langit. Jika anda menginginkan kebahagiaan dalam kehidupan, anda ingin bahagia di rumah, di kantor, dalam kehidupan sosial, kalau semua ingin diraih rumusnya sederhana, dekati Al Qur’an karena didalamnya menerangkan kepada kita bagaimana cara meraihnya.

Tapi ternyata banyak orang membaca Al Qur’an namun belum bahagia juga bahkan ada orang yang baru disebutkan Al Qur’an langsung terlihat dari wajahnya nampak kurang bahagia. Terkadang aneh, hidup ingin bahagia, diberikan kemudahan diantarkan pada kebahagiaan namun kurang bisa mengikuti. Maka dari itu, anda mesti berani mendekati Al Qur’an. Ayo, baca Al Qur’an. Ayo, dalami kandungan Al Qur’an. Jika anda sudah mengamalkannya tapi belum juga didapatkan kebahagiaan, coba periksa kembali mungkin cara anda mengerjakannya belum sesuai dengan petunjuk sunnah Nabi. Kalau orang dulu bisa bahagia dengan Al Qur’an kenapa anda tidak. Maka, mari review lagi

Ayat-Ayat Kebahagiaan dalam Al Qur’an

Akan tiba suatu masa nanti, setiap makhluk tidak ada yang bisa bicara. Bukan karena sungkan, namun suasana yang bercampur antara gelisah, takut, kagum dan bangga. Karena keadaan berkecamuk, sulit untuk mengungkapkan suatu keinginan. Jangankan manusia, selevel malaikat pun tidak bisa menyampaikan suatu kalimat kecuali dengan izin Allah. Pada saat itu, diantara orang yang diam akan ada sebagian orang yang nestapa dan ada pula yang berbahagia. Jadi, di akhirat nanti ada orang-orang yang dalam diamnya mendapat jaminan kebahagiaan tapi tidak sedikit yang mendapat sebaliknya. [lihat Qur’an Surat Hud: 105-108]

Kata kebahagiaan pertama dalam Al Qur’an, adalah kebahagiaan di akhirat dan tempatnya Allah sebutkan di Jannah. Namun ketika Allah menyebutkan kebahagiaan di dunia, Allah menggunakan kata yang berbeda, kesenangan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang sementara saja bahkan disifati dengan ghurur. Nampak seperti fatamorgana, kesenangan yang tidak abadi, kelihatannya enak menyenangkan tapi sifatnya tidak abadi. Anda mungkin bahagia di dalam rumah, sayangnya ketika keluar rumah suasana sudah berubah. Anda mungkin bahagia saat berlibur dengan keluarga, namun ketika maut datang maka kebahagiaan itu sirna. Itulah kebahagiaan dunia yang bersifat semu dan diberikan nama ghurur. Jadi, kalau anda ingin bahagia di rumah anda juga dalam aktivitas anda dalam kehidupan sosial anda bahkan dalam ibadah anda maka cari petunjuk itu dalam Al Qur’an. [lihat Qur’an Surat Al Mu’minun: 1-11]

Baca Juga : Bersahabat Dengan Al Qur’an

Syarat pertama jika anda ingin merasakan kebahagiaan dalam seluruh aspek kehidupan, maka anda mesti beriman. Kalau anda tidak beriman maka kebahagiaan yang hakiki itu tidak akan pernah dirasakan. Mukmin adalah orang yang saat sholat menghadirkan ke khusyu’an, menghindari hal yang tidak bermanfaat, memberikan zakat pada saat yang tepat juga menjaga kehormatan diri (menjaga syahwat). Ketika resep-resep itu dipraktikan, Allah janjikan ia akan bahagia dalam dunia dan muara akhirnya adalah kebahagiaan dalam Jannah Firdaus. Orang yang sering berbagi akan mendapatkan kebahagiaan dilungkungan sosialnya, orang yang senang meningkatkan hubungan kepada Allah, itu yang akan menghasilkan ketenangan dan kebahagiaan dalam hatinya. Kalau anda mengaku beriman namun belum merasakan kebahagiaan seperti orang dahulu merasa bahagia pasti ada yang salah dengan iman anda.

Syarat kedua adalah mendapat bimbingan Allah. Bahagia sejati dalam informasi Al Qur’an adalah orang yang senatiasa dibimbing Allah, orang yang mendapat bimbingan Allah itulah orang yang cenderung bahagia dalam aktifitasnya. Fikirannya dibimbing Allah, dia tidak akan berfikir yang tidak baik karena Allah melarang berfikir yang tidak baik. Ketika ia bicara hanya akan berbicara yang baik, karena menggunakan iman dan bimbingan Allah. Karena bimbingan Allah itulah maka setiap elemen tubuhnya tidak akan melakukan hal kecuali yang mulia.

Jika anda ingin mendapatkan bimbingan Allah maka tingkatkan Iman dan Taqwa. Amalan orang bertaqwa adalah ia menyempurnakan ibadah sholat, infaq dan mengimani dengan kuat akan petunjuk Al Qur’an. [lihat Qur’an Surat Al Baqoroh: 2-5]

Bahaya Meninggalkan Taqwa dan Iman

Dalam beberapa hal tertentu ukuran kebahagiaan tidak harus diukur dengan materi. Bahagia yang hakiki itu adalah kebahagiaan yang kita bisa mengikuti petunjuk dari Allah dalam Al Qur’an juga tuntunan Nabi. kebahagiaan sesungguhnya di dunia hanya akan Allah lekatkan pada orang beriman dan Allah turunkan pada orang bertaqwa. Maka jadikan iman anda menguat, latih dengan ibadah dan jadikan taqwa anda meningkat, latih dengan ketaatan kepada Allah.

Rumusnya gampang, rajinkan ibadah jauhi maksiat juga tingkatkan taat jauhi maksiat. Jika itu semua dikerjakan, Allah akan mengantarkan anda pada kebahagiaan hakiki yang ada di Jannah Nya. Namun jika anda melemah dalam ibadah beserta meninggalkan ketaatan pastilah kesengsaraan itu akan akrab pada anda. Dulu Spanyol, banyak illmuan menghasilkan karya tapi dibarengi dengan meninggalkan Iman dan Taqwa. Mulailah muncul persaingan merebutkan tahta kekuasaan. Hadirlah pasangan kafir, Ratu Isabella dan Raja Ferdinand bersatu dan mencari titik kelemahan muslim di Spanyol. Seketika itu dihancurkan muslim Spanyol hingga tersisa puing-puingnya saja dalam lembaran sejarah yang ada. Ayo kembali kepada Al Qur’an, mulailah membaca dan mempelajari isi kandungannya. Apapun profesi anda, siapapun anda orangnya mulailah bergaul dengan Al Qur’an agar peta kebahagiaan komprehensif bisa anda rasakan. Allahu a’lam.

[Arhab Yusuf Adz Dzakiy ibnul Jazuliy]

 

About pptqluha

Baca Juga

Belajar Tawakkal Dari Burung

BELAJAR TAWAKKAL DARI BURUNG “Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *